Penulis Desta Leila Kartika. TRIBUNJATENG.COM, SLAWI â Keberangkatan 840 santri dan wali santri Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, Kediri, Jawa Timur dilepas langsung oleh Wakil Bupati Tegal Sabilillah Ardie pada Senin (24/5/2020) lalu dari depan Kantor DPC PKB Kabupaten Tegal.. Selain harus mengantongi izin dari orangtua, sebelum berangkat,
SUSUNANPENGURUS PUSAT HIMASAL. (HIMASAL) MASA KHIDMAH : 2010-2015 I. DEWAN PEMBINA Ketua : KH Ahmad Idris Marzuqi Sekretaris : KH. M. Anwar Manshur (tanpa judul) Badan Pembina Kesejahteraan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Masa Khidmah 1432-1433 H./2011-2012 M .
Kamiketika sedang mengenyam jenjang Aliyah di Madrasah Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, kebetulan satu kelas selama dua tahun, tepatnya saat kelas 2 dan 3 Aliyah. Sebagai orang yang akan bertanggung jawab atas akhlaq dan moral warga Sumatera, Ia termasuk orang yang sangat bertanggung jawab, dan mengenai keilmuan juga jelas tidak diragukan lagi.
AbahGofur dikenal oleh masyarakat adalah seorang yang kaya dan sangat dermawan. Setiap hari Jum'at, setelah jum'atan, Abah Gofur selalu menyiapkan makan untuk seluruh warga desa yang tidak mampu. Ketika ada salah. Kiai Alumni Lirboyo dan Seorang Pengusaha 31 Oktober 2021 31 Oktober 2021 OPINI POPULER . Pelajaran di Muktamar NU
TEMPOCO, Jakarta-Salah satu Pengasuh Pondok Lirboyo Kediri, Jawa Timur, Abdullah Kafabihi Mahrus, menilai Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil layak sebagai salah satu tokoh yang memiliki kompetensi calon presiden. "Beliau kandidat, survei baik. Adapun jadi presiden atau tidak itu urusan lain. Yang penting kita harus mengakomodir capres yang akan
PENGASUHPondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, KH Anwar Mansyur, menginstruksikan seluruh santri dan alumni Lirboyo memenangkan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 01 Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin.
Dalammaklumat tertanggal 12 Maret itu, Kiai Marzuki mengintruksikan kepada seluruh santri dan alumni Ponpes Sabilurrosyad agar memberikan dukungan kepada Jokowi-KMA pada Pilpres 2019.Kiai yang juga Ketua Umum PWNU Jawa Timur tersebut mengaku, maklumat itu dikeluarkan sebagai respon maklumat pengasuh Ponpes Lirboyo, Kediri, KH Anwar Mansur.
PesantrenLirboyo memadukan antara tradisi yang mampu mengisi kemodernitasan dan terbukti telah melahirkan banyak tokoh-tokoh yang saleh keagamaan, sekaligus saleh sosial. Lirboyo adalah pesantren dengan identitas khas Jawa Timur bernafaskan Nahdhatul Ulama dengan pendalaman pada kitab-kitab kuning sebagai pusat kajian santri melalui halaqah
RADARSEMARANGID, Kendal â Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Kendal menggelar pertandingan Bulutangkis persahabatan. Ada 40 pemain dalam pertandingan melawan Himasal Magelang. Pertandingan Bulutangkis ini cukup unik. Sebab meski bertanding, para pemain ini ada yang masih menenganakan sarung. âNamanya santri, memang identiknya pakai
Alumnisantri Lirboyo Kota Kediri, dengan penuh kesadaran dan tawakkal kepada Allah SWT membentuk organisasi dengan nama (HIMASAL) Himpunan Alumni Santri Lirboyo. Hal-hal yang belum termaktub dalam tata tertib ini akan diatur lebih lanjut oleh badan Pembina Postingan Populer. Tata Tertib Pondok Pesantren Lirboyo. BAB I KEWAJIBAN PASAL
R70m3CV. ï»żPegiat media sosial Eko Kuntadhi mengunjungi Ponpes Lirboyo, Kediri setelah cuitannya di media sosial Twitter dianggap menghina Ustazah Imaz Fatimatuz Zahra atau yang akrab disapa Ning Imaz. Eko tiba di Ponpes Lirboyo pada Kamis 15/9 sekitar pukul WIB. JAKARTA - Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Muchamad Nabil Haroen, yang yang akrab dipanggil Gus Nabil terkejut saat mendengar putri kiai Lirboyo, Ustazah Imaz Fatimatuz Zahra atau Ning Imaz dihina oleh pegiat media sosial, Eko Kuntadhi. Jika Ning Imaz tidak memaafkannya, menurut Gus Nabil, barisan alumni Lirboyo pun siap menghadapi Eko Kuntadhi. âSebagai alumni Lirboyo tentu terkejut kok sedangkal itu Eko Kuntadhi. Saya juga sudah mendengar dia meminta maaf, ya itu terserah Ning Imaz memaafkan atau tidak. Kalau Ning Imaz tidak memaafkan, ya kita barisan alumi Lirboyo di belakangnya siap Eko Kuntadhi mau model apa,â ujar Gus Nabil saat ditemui dalam acara Mukernas LPOI di Jakarta, Kamis 15/9/2022. Wakil Sekretaris LPOI ini menuturkan, semua orang memang bebas berpendapat di media sosial. Namun, kata dia, seharusnya influencer atau public figure harus memiliki cara-cara yang beradab. âSeharusnya public figure atau influencer ini tentunya harus memiliki cara-cara yang beradab, yang beretika, dan bisa memberikan contoh bagi yang lain ketika dia mengeluarkan kutipan, cicitan Twitter atau apapun,â ucap Gus Pagar Nusa NU ini mengatakan, kasus penghinaan yang dilakukan Eko Kuntadhi ini harus dijadikan sebagai pelajaran bagi pegiat media sosial, sehingga tidak asal dalam berkomentar. âIni harus menjadi pelajaran bahwa ketika kita ingin menanggapi sesuatu harus kita baca secara utuh, kita pelajari secara utuh baru komen, gak asbun, asal bunyi,â kata Anggota DPR RI ini. Gus Nabil menambahkan, di zaman sekarang ini banyak sekali influencer yang asal bunyi untuk mencari popularitas. Dia pun khawatir Eko Kuntadhi juga melakukan penghinaan terhadap Ning Imaz hanya untuk sebuah popularitas.âJadi, menurut saya ya kita tunggu sikap Ning Imaz saja. Sejauh ini saya belum mendapatkan konfrmasi. Katanya mau ke Lirboyo,â kata Nus Nabil yang pernah nyantri di Lirboyo selama 11 tahun.
KH Azizi Hasbullah terkenal sebagai macan Lirboyo. Sebuah julukan yang menggambarkan kepiawaiannya dalam ranah bahstul masail. Kepulangannya ke hadirat Allah Swt tentu saja meninggalkan banyak kenangan di benak sahabat dan jejak digital tentang cerita beliau yang tersebar di media sosia. Di antaranya adalah tulisan Mukti Ali Qusyairi, alumni Pesantren Lirboyo Kediri dan Ketua Lembaga Bahtsul Masail LBM Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama PWNU DKI Jakarta yang ia unggah di akun facebooknya.âSaya sebagai murid, saya ingin menulis sekilas tentang beliau sependek yang saya tahu. Karena bagi saya, beliau adalah tokoh penting.â semula saya nyantri di Lirboyo, nama Romo KH Azizi Hasbullah selanjutnya disebut Kiai Azizi sudah menjadi buah bibir dan tema tersendiri dalam obrolan-obrolan warung kopi para santri. Pasalnya, di dalam diri Kiai Azizi ada anomali atau ketidaknormalan yang mengejutkan bagi publik Kiai Azizi dari keluarga yang kurang berada, sehingga agar bisa nyantri di Lirboyo dengan memilih menjadi dalem Kiai pengasuh Lirboyo. Lantaran dengan memilih menjadi dalem, ia bisa gratis sekolah dan mesantren serta mendapatkan kebutuhan makan-minum serta kebutuhan merupakan tradisi pesantren. Yaitu kerja-kerja khidmah, pengabdian, dan membantu berbagai hal yang dibutuhkan sang kiai. Misalkan menjaga toko kitab, warung/kantin, memasak, mengurus sawah, atau mengurus binatang ternak, dll. Akan tetapi kerja-kerja itu dilakukan di luar jam wajib sekolah dan ngaji Azizi konon mendapatkan pengabdian di bidang mengurus sapi-sapi milik keluarga almaghfurlah Romo KH Ahmad Idris Marzuqi, pengasuh Pesantren Lirboyo generasi menjadi santri, Kiai Azizi sibuk mencari rumput, memberi makan-minum, dan membersihkan kandang sapi serta memandikan sapi-sapi. Kadang-kandang sapi berada di samping pesantren. Kiai Azizi pun semasa menjadi santri sampai menjadi guru kami, kiai kami, hidup dan mukim di sebuah gubuk terbuat dari bambu dan jerami yang berada tidak jauh dari kandang sibuk dalem mengurus sapi-sapi yang cukup menyita waktu dan menguras tenaga, tetapi Kiai Azizi menjadi siswa yang paling menonjol kemampuan hapalan, pemahaman, mental, dan artikulasinya. Beliau selalu menjadi Rais Am, ketua musyawarah kitab, dan aktivis serta santri bahtsul masail pilih yang dikagumi oleh publik santri. Sembari bertanya-tanya, mana mungkin dalam waktu bersamaan sibuk luar biasa dalem ngurus sapi dan menjadi siswa yang paling menonjol?! Ada yang bergumam, âini anomali, gak normal!â. Ada yang bilang, âGenius!â. Juga ada yang bilang dengan bahasa agak intelek, âOut of the box!â Semua mengagumi. Di Lirboyo, Kiai Azizi Hasbullah menjadi tokoh fenomenal sejak menjadi santri hingga detik ini. Banyak yang menjuluki âMacan Lirboyo!âSaya pun mengaguminya. Fans berat. Meski selain beliau, ada tokoh-tokoh di dalam Lirboyo yang saya kagumi seperti di antaranya yaitu Gus KH Ishomuddin Adziq, Pak Kiai Rosichun Zaka, Pak Kiai Ali Musthofa, Pak KH Saiful Mahrus Aly, Tokoh Kemerdekaan Dari Pesantren LirboyoBahtsul MasailKetika saya masih ibtidaiyah, suka menonton dan mendengarkan Kiai Azizi Hasbullah sedang menjelaskan rumusan dalam perhelatan bahtsul masail yang di adakan di Serambi tsanawiyah MTs baru bisa ikut belajar bahtsul masail dan musyawarah kitab Fathul Qarib lintas kelas tsanawiyah dan aliyah. Dewan perumusnya di antaranya Kiai Azizi, Pak KH Ali Musthofa, dll. Ketika beliau menjelaskan, saya pasang kuping dengan lebar. Rasanya senang sekali bisa dibimbing sang maestro bahtsul saya terkaget-kaget, kok bisa Kiai Azizi dalam merumuskan jawaban persoalan dengan memasukan pada bab kitab fikih yang sepertinya kurang nyambung tapi memang itu jawabannya. Pelan-pelan saya amati, dan setelah kelas tiga tsanawiyah dan sudah lumayan banyak baca kitab-kitab kuning seperti Bujayrami ala al-Khathim Syarah Iqnaâ, di sekolah juga belajar Fathul Muâin dengan Syarah Iâanat al-Thalibib dan Tarsyikhul Mustafidin, Hasyiyah Syarwani Sayah Tuhfatul Muhtaj pemberian kakak saya Qurratul Ain beli ketika haji, dll. Serta rajin mencatat ibarat-ibarat/penjelasan kitab yang penting. Saya baru memahami, ya memang ada banyak persoalan yang di bahas di bab kitab fikih yang terlihat tidak nyambung tetapi sebetulnya kitab fikih dalam pengebaban sudah baku. Itu-itu saja babnya. Misalkan ubudiyah, munakahat, muâamalat, dan jinayat. Bagi yang biasa membaca buku modern pasti akan bingung mencari jawaban dari kitab kuning. Sebab buku modern ditulis secara spesifik dan tematis serta kasuistik/masalah permasalah. Sedangkan kitab kuning tidak ditulis secara tematis dan tidak akan menemukan tema tahlilan atau sedekah yang pahalanya untuk mayat, tapi kita akan menemukannya di bab janazah dal lain tiba saatnya di sekolah MHM Madrasah Hidayatul Mubtadiin Lirboyo saya mendapati materi kitab ushul fikih Waraqat, disusul Tashil al-Thuruqat, dan Lubbul Ushul. Kakak kelasku, Kang H Said Salim yang saat ini menjadi kakak ipar, menitipkan saya ke Kiai Azizi untuk ikut kursus kitab ushul fikih. Karena Kang H Said saat itu mau boyong tamatan. Kami sowan dengan membawa gula batu dan teh upet khas saat itu saya aktif kursus ushul fikih kitab Lubul Ushul bersama Kiai Azizi di biliknya yang terbuat dari bambu dan jerami itu. Biasa kita menyebutnya âgedegâ.Saya masih ternginang cara beliau menjelaskan. Menjelaskan pengertian dari kata perkata yang ada di dalam kitab. Sejujurnya saya baru bisa memahami ushul fikih berkat kursus dengan Kiai ketika beranjak naik kelas Aliyah menjumpai kitab Jamâu al-Jawami 2 jilid, saya merasa agak ringan karena ada modal kurus kitab Lubul Ushul bersama Kiai Aliyah, tahun 1998-2000. Di saat saya sedang gandrung membaca buku-buku pemikir muslim Indonesia maupun Timur Tengah bahkan Barat, sembari saya terkadang nulis di Majalah dinding Lirboyo dan menjadi Sekjen Bahtsul Masail Kelas Aliyah. Saya sowan ke Kiai Azizi dengan tujuan mencopi makalah-makalah beliau. Beliau makalah-makalah itu saya ketik ulang di tempat rental komputer di Kota Kediri dan saya simpan di disket. Saat itu belum ada flashdisk. Saya edit dan kasih pengantar kajian atas tulisan-tulisan beliau. Jadilah buku yang diberi judul âKontekstualisasi Doktrin Fikih Islamâ.Buku itu diterbitkan dan dicetak oleh kami bersama teman sekelas, Fajar Mukhlasin Nur ketua kelas yang juga orang Malang, Bustomi, dan lain-lain. Dananya itu diterbitkan dan dicetak oleh kami bersama teman sekelas, Fajar Mukhlasin Nur ketua kelas yang juga orang Malang, Bustomi, dll. Dananya itu kita jual habis ketika dilaunching dan dibedah oleh penulisnya langsung Kiai Azizi Hasbullah. Karena Kiai Azizi adalah magnet dan idola para santri Lirboyo, sehingga tak butuh waktu lama menghabiskan buku uang hasil penjualan buku terkumpul, labanya kami berikan kepada Kiai Azizi sebagai penulis dan modal dikembalikan ke teman-teman sambil mayoran terong. Mensyukuri kesuksesan murid. Pada tahun 2021, kami pernah mengundang beliau bersama Kiai Zahro Wardi untuk menjadi perumus LBM PWNU DKI Jakarta. Dan bersedia datang. Betul-betul datang ke Jakarta. Kami senang sekali. Terasa mendapatkan keberkahan dan wawasan yang luar kini Sang macan Lirboyo itu telah Lahu Alfatihah Imam HamidiSumber Facebook Mukti Ali Qusyairi
Pesantren adalah lembaga yang sangat efektif untuk mengembangkan dan mempertahankan ajaran Ahli Sunah wal Jamaâah, sekaligus menâcetakâ ulama-ulamanya. Oleh karena itu pondok pesantren harus ditumbuh kembangkan dan diangkat, baik kualitas maupun kwantitasnya. Untuk tercapainya tujuan tersebut, sangat erat kaitannya kepada ulama pondok pesantren yang selalu bersatu padu memperkokoh tali silaturrahim, banyak bermusyawarah, saling tolong menolong, bantu membantu, baik yang bersifat pribadi maupun organisasi yang dibentuk para alumninya. Dan berdasarkan pemikiran ini, para alumni Pondok Pesantren Lirboyo, dengan penuh kesadaran dan tawakkal membentuk organisasi dengan nama HIMASAL, singkatan dari Himpunan Alumni Santri Lirboyo. HIMASAL lahir di Lirboyo pada tanggal 26 Syawal 1416 H. bertepatan dengan tanggal 15 Maret 1996 M. Organisasi ini bersifat kekeluargaan dan beraqidah Islam menurut faham Ahli Sunnah wal Jamaâah serta mengikuti salah satu madzhab empat Hanafi, Maliki, Syafiâi dan Hambali yang beranggotakan setiap santri yang pernah belajar di Pondok Pesantren Lirboyo dan menyetujui azas-azas, aqidah tujuan dan sanggup melaksanakan semua keputusan organisasi. Kepengurusannya terdiri dari Dewan Pembina, Dewan Penasehat dan Dewan Pimpinan. Sedang tingkat kepengurusan organisasi yang berazaskan Pancasila ini terbagi menjadi tiga macam Kepengurusan Pusat, disingkat dengan PP, Pengurus Wilayah tingkat provinsi disingkat PW dan Pengurus Cabang tingkat Kabupaten/ Kotamadya/ Kota disingkat PC. Untuk permusyawaratannya, terbagi menjadi empat Musyawarah Nasional MUNAS, Musyawarah Besar MUBES, Musyawarah Wilayah MUSWIL dan Musyawarah Cabang MUSCAB. Keuangan organisasi yang berpusat di Pondok Pesantren Lirboyo ini, bersumber dari sumbangan yang tidak mengikat dan usahan-usaha halal lainnya. Semenjak terbentuk, HIMASAL telah menggelar MUNAS tiga kali. Pertama pada tanggal 17-19 Juli 2001, kedua digelar serangkai dengan peringatan Satu Abad Lirboyo pada 17 Juli 2010, dan ketiga pada 26 Mei 2015. 4 Alumni Muslim Pesantren